Judul Jurnal Pembelajaran: MENCIPTAKAN IKLIM KELAS POSITIF UNTUK SISWA PASIF DI
SMP NEGERI 1 GAPURA
Aksi nyata yang saya lakukan pada Topik 4 ini adalah sebuah refleksi mendalam yang saya kaitkan langsung dengan praktik di kelas. Ini bukan sekadar teori, tapi upaya nyata saya untuk "berbenah".Aksi nyata yang saya lakukan pada Topik 4 ini adalah sebuah refleksi mendalam yang saya kaitkan langsung dengan praktik di kelas. Ini bukan sekadar teori, tapi upaya nyata saya untuk "berbenah".Aksi nyata ini punya dua fokus utama:1. Melihat ke Dalam: Refleksi pengelolaan emosi saya sebagai guru. Karena saya sadar betul, well-being siswa itu dimulai dari well-being gurunya.2. Melihat ke Luar: Praktik baik menciptakan lingkungan kelas yang positif dan suportif, terutama untuk menjawab tantangan terbesar saya di SMPN 1 Gapura, yaitu menghadapi keberagaman siswa yang mayoritas cenderung pasif, kurang percaya diri, namun kuat di visual-kinestetik.
Mempelajari Topik 4 ini benar-benar membuka mata saya. Selama ini, saya sering terjebak pada target materi IPS, tapi lupa bahwa anak-anak butuh "rasa" nyaman di kelas. Saya sadar, percuma saya mengejar materi kalau dimensi Loving (relasi) dan Being (pemenuhan diri) mereka tidak terpenuhi.
Aksi nyata ini adalah rangkuman dari apa yang saya pikirkan dan sudah saya coba terapkan di kelas saya sebagai wujud pemahaman saya atas materi School Well-Being.
Berikut adalah refleksi dan rencana aksi nyata saya:
1. Bagaimana Anda sebagai guru mengelola emosi supaya bisa berpengaruh positif pada lingkungan pembelajaran Anda?
Jujur, sebagai guru yang sudah mengajar 15 tahun, tantangan emosi terbesar saya adalah mengelola rasa lelah dan frustrasi ketika menghadapi kepasifan siswa. Saya sering merasa "gemas" ketika saya sudah menyiapkan media visual atau aktivitas kinestetik, namun respons siswa tetap minim. Emosi saya juga mudah terpancing (meski berusaha saya tahan) ketika saya sedang menjelaskan konsep yang penting, namun ada siswa yang mengobrol dan tidak fokus.
Saya sadar betul bahwa stres pada guru akan berdampak langsung pada kesejahteraan siswa. Guru yang tidak sejahtera secara mental, tidak mungkin bisa menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan.
Untuk itu, langkah konkret yang sudah dan akan terus saya lakukan untuk mengelola emosi adalah:
Dampaknya: Saat saya lebih tenang, iklim kelas (dimensi Loving) menjadi lebih aman. Siswa saya yang pasif tidak merasa terintimidasi. Mereka tahu bahwa kelas IPS Pak Sigit adalah tempat yang aman untuk "tidak tahu" dan "boleh salah". Ini adalah fondasi utama untuk membangun well-being mereka.
2. Bagaimana menciptakan lingkungan positif dengan kemampuan peserta didik yang beragam?
Di kelas saya, keberagaman siswa sangat jelas. Ada yang visual-kinestetik (tidak bisa diam), ada yang auditori (suka mendengar cerita). Ada yang cepat tanggap (akademik tinggi), tapi banyak juga yang butuh waktu lebih lama untuk mencerna materi. Ada yang aktif (sedikit), dan mayoritas pasif (diam).
Jika saya paksakan satu metode (misal ceramah), saya pasti gagal. Ini bukan hanya soal akademik, tapi soal pemenuhan diri (dimensi Being).
Strategi saya untuk menjadikan keberagaman ini sebagai kekuatan adalah:
a. Membuat "Kesepakatan Kelas" (Bukan Peraturan Guru):
Di awal tahun ajaran, saya tidak membuat "Peraturan Kelas". Saya mengajak mereka membuat "Kesepakatan Kelas". Kami menulis bersama di papan tulis, misalnya: 1) "Menghargai teman yang sedang bicara", 2) "Bertanya jika tidak paham", 3) "Boleh bergerak asal tidak mengganggu". Karena mereka ikut membuat aturan (dimensi Being - decision making), mereka lebih bertanggung jawab menjalankannya. Ini menciptakan safety (rasa aman).
b. Menerapkan Pembelajaran Berdiferensiasi (Proses dan Produk):
Untuk siswa saya yang visual-kinestetik dan pasif, saya tidak bisa hanya bertanya.
c. Kelompok Heterogen dan Ice Breaking (Membangun Loving):
Saya sengaja membentuk kelompok secara heterogen (campuran yang cepat dan lambat, yang aktif dan pasif). Ini melatih peer relationship. Untuk mencairkan suasana (terutama siswa pasif saya), ice breaking di awal pelajaran (walau hanya 3 menit tepuk tangan atau tebak gambar) sangat wajib. Ini membuat mereka "tertawa bersama" sebelum masuk ke materi yang serius.
Dengan langkah-langkah ini, saya berusaha menciptakan lingkungan positif di mana setiap siswa (tidak peduli seberapa cepat atau lambat dia belajar) merasa "dilihat", "dihargai", dan "aman".
Saya setuju sekali, Pak Sigit. Saya perhatikan Bapak memang lebih sabar sekarang di kelas. Dulu kita sering ngedumel bareng di ruang guru soal anak-anak yang pasif itu. Teknik JEDA itu praktis sekali, patut saya tiru. Kadang kita lupa bernapas saking inginnya anak-anak cepat paham.
Aksi nyata ini sangat relevan dengan visi sekolah kita, seandainya semua guru menerapkan seperti yang pak Sigit tulis saya yakin demensi Loving and Being di SMP Negeri Gapura akan meningkat. Jika berkenan saya minta pak Sigit medesiminasikannya ke teman teman lewat kombel Kubela Spentura.
Keren Pak Sigit! Ide kesepakatan kelas dan diferensiasi produk itu pas banget. Siswa saya yang kinestetik juga begitu, Pak, tidak bisa diam. Kalau dipaksa duduk, ya mengobrol. Saya jadi terpikir, di PJOK juga harus ada diferensiasi produk, tidak hanya tes lari saja. Biar anak-anak merasa dihargai
Sangat menginspirasi dan memberikan gambaran kepada kita sebagai seorang pendidik dalam upaya menciptakan lingkungan belajar yang nyaman untuk peserta didik dan peserta didik merasa dilihat dan dihargai keberadaannya di kelas
Judul Aksi Nyata: MERANCANG PEMBELAJARAN IPS YANG BERMAKNADENGAN PRINSIP UNDERSTANDING BY DESIGNDI SMP NEGERI 1 GAPURA Latar Belakang Sebagai seorang guru IPS di SMP Negeri
Sebelum dikenal dengan Indonesia sebagai nama resmi, negara yang kaya akan budaya dan sumber daya alam ini pernah dikenal dengan aneka nama. Nama-nama ini memiliki makna yang mengg
Sejak zaman dahulu itu, nilai-nilai Pancasila sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di wilayah yang sekarang menjadi bagian dari negara Indonesia ini. Maka para ahli pun m