sigitwahjudi@gmail.com 0818518866 RSS
Logo

PORTOFOLIO SGT

Jelajahi pengetahuan, bentuk masa depan

MODUL-2: JURNAL PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL

MODUL-2: JURNAL PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL

Judul Jurnal Pembelajaran: MENCIPTAKAN IKLIM KELAS POSITIF UNTUK SISWA PASIF DI
SMP NEGERI 1 GAPURA

JENIS AKSI NYATA YANG DILAKUKAN

Aksi nyata yang saya lakukan pada Topik 4 ini adalah sebuah refleksi mendalam yang saya kaitkan langsung dengan praktik di kelas. Ini bukan sekadar teori, tapi upaya nyata saya untuk "berbenah".Aksi nyata yang saya lakukan pada Topik 4 ini adalah sebuah refleksi mendalam yang saya kaitkan langsung dengan praktik di kelas. Ini bukan sekadar teori, tapi upaya nyata saya untuk "berbenah".Aksi nyata ini punya dua fokus utama:1. Melihat ke Dalam: Refleksi pengelolaan emosi saya sebagai guru. Karena saya sadar betul, well-being siswa itu dimulai dari well-being gurunya.2. Melihat ke Luar: Praktik baik menciptakan lingkungan kelas yang positif dan suportif, terutama untuk menjawab tantangan terbesar saya di SMPN 1 Gapura, yaitu menghadapi keberagaman siswa yang mayoritas cenderung pasif, kurang percaya diri, namun kuat di visual-kinestetik.

NARASI PROSES PELAKSANAAN AKSI NYATA

Mempelajari Topik 4 ini benar-benar membuka mata saya. Selama ini, saya sering terjebak pada target materi IPS, tapi lupa bahwa anak-anak butuh "rasa" nyaman di kelas. Saya sadar, percuma saya mengejar materi kalau dimensi Loving (relasi) dan Being (pemenuhan diri) mereka tidak terpenuhi.

Aksi nyata ini adalah rangkuman dari apa yang saya pikirkan dan sudah saya coba terapkan di kelas saya sebagai wujud pemahaman saya atas materi School Well-Being.

Berikut adalah refleksi dan rencana aksi nyata saya:

1. Bagaimana Anda sebagai guru mengelola emosi supaya bisa berpengaruh positif pada lingkungan pembelajaran Anda?

Jujur, sebagai guru yang sudah mengajar 15 tahun, tantangan emosi terbesar saya adalah mengelola rasa lelah dan frustrasi ketika menghadapi kepasifan siswa. Saya sering merasa "gemas" ketika saya sudah menyiapkan media visual atau aktivitas kinestetik, namun respons siswa tetap minim. Emosi saya juga mudah terpancing (meski berusaha saya tahan) ketika saya sedang menjelaskan konsep yang penting, namun ada siswa yang mengobrol dan tidak fokus.

Saya sadar betul bahwa stres pada guru akan berdampak langsung pada kesejahteraan siswa. Guru yang tidak sejahtera secara mental, tidak mungkin bisa menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan.

Untuk itu, langkah konkret yang sudah dan akan terus saya lakukan untuk mengelola emosi adalah:

  1. Teknik "JEDA" (Ambil Napas Saat Emosi Naik): Ketika ada siswa yang mengobrol saat saya menjelaskan, saya tidak akan langsung menegur dengan nada tinggi. Saya akan berhenti bicara sejenak (jeda), menatap siswa tersebut dengan tenang, dan menarik napas dalam. Ini memberi saya waktu sepersekian detik untuk meredam lonjakan emosi. Biasanya, kelas akan otomatis hening karena menyadari saya berhenti. Baru setelah itu saya panggil namanya dengan tenang, "Rudi, ada yang bisa Pak Sigit bantu?"
  2. Refleksi Pasca-Mengajar (Mengubah Frustrasi jadi Solusi): Dulu, saya sering membawa rasa lelah karena siswa pasif sampai ke rumah. Sekarang, saya membiasakan refleksi pribadi setelah mengajar. Saya bertanya pada diri sendiri, "Kenapa tadi anak-anak pasif? Mungkin pertanyaan saya terlalu sulit." atau "Kenapa mereka mengobrol? Mungkin penjelasan saya terlalu lama." Refleksi ini membantu saya memindahkan emosi negatif (frustrasi) menjadi energi positif (mencari strategi baru).
  3. Afirmasi Positif (Memperbaiki Niat): Sebelum masuk kelas, saya membiasakan afirmasi positif. Saya katakan pada diri sendiri, "Tugas saya bukan membuat mereka 'paham' hari ini, tapi membuat mereka 'berani' mencoba." Ini membantu saya lebih sabar dan fokus pada proses, bukan hanya hasil akhir.

Dampaknya: Saat saya lebih tenang, iklim kelas (dimensi Loving) menjadi lebih aman. Siswa saya yang pasif tidak merasa terintimidasi. Mereka tahu bahwa kelas IPS Pak Sigit adalah tempat yang aman untuk "tidak tahu" dan "boleh salah". Ini adalah fondasi utama untuk membangun well-being mereka.

2. Bagaimana menciptakan lingkungan positif dengan kemampuan peserta didik yang beragam?

Di kelas saya, keberagaman siswa sangat jelas. Ada yang visual-kinestetik (tidak bisa diam), ada yang auditori (suka mendengar cerita). Ada yang cepat tanggap (akademik tinggi), tapi banyak juga yang butuh waktu lebih lama untuk mencerna materi. Ada yang aktif (sedikit), dan mayoritas pasif (diam).

Jika saya paksakan satu metode (misal ceramah), saya pasti gagal. Ini bukan hanya soal akademik, tapi soal pemenuhan diri (dimensi Being).

Strategi saya untuk menjadikan keberagaman ini sebagai kekuatan adalah:

a. Membuat "Kesepakatan Kelas" (Bukan Peraturan Guru):

Di awal tahun ajaran, saya tidak membuat "Peraturan Kelas". Saya mengajak mereka membuat "Kesepakatan Kelas". Kami menulis bersama di papan tulis, misalnya: 1) "Menghargai teman yang sedang bicara", 2) "Bertanya jika tidak paham", 3) "Boleh bergerak asal tidak mengganggu". Karena mereka ikut membuat aturan (dimensi Being - decision making), mereka lebih bertanggung jawab menjalankannya. Ini menciptakan safety (rasa aman).

 b. Menerapkan Pembelajaran Berdiferensiasi (Proses dan Produk):

Untuk siswa saya yang visual-kinestetik dan pasif, saya tidak bisa hanya bertanya.

  • Diferensiasi Proses: Saya gunakan metode yang melibatkan gerak dan visual, seperti Gallery Walk atau Market Place Activity. Siswa bergerak melihat hasil karya kelompok lain. Ini mengakomodasi gaya belajar mereka.
  • Diferensiasi Produk: Saat tugas proyek (misal materi ASEAN), saya bebaskan: yang jago gambar boleh buat infografis, yang berani bicara boleh presentasi, yang kinestetik boleh buat peta timbul. Ini memberi mereka pilihan dan meningkatkan self-esteem (konsep diri). 

 c. Kelompok Heterogen dan Ice Breaking (Membangun Loving):

Saya sengaja membentuk kelompok secara heterogen (campuran yang cepat dan lambat, yang aktif dan pasif). Ini melatih peer relationship. Untuk mencairkan suasana (terutama siswa pasif saya), ice breaking di awal pelajaran (walau hanya 3 menit tepuk tangan atau tebak gambar) sangat wajib. Ini membuat mereka "tertawa bersama" sebelum masuk ke materi yang serius.

 Dengan langkah-langkah ini, saya berusaha menciptakan lingkungan positif di mana setiap siswa (tidak peduli seberapa cepat atau lambat dia belajar) merasa "dilihat", "dihargai", dan "aman".

29/10/2025 10:50 - Oleh Administrator - Dibaca 434 kali

4 Komentar

Nur Fitriah SE • 31/10/2025 15:52

Saya setuju sekali, Pak Sigit. Saya perhatikan Bapak memang lebih sabar sekarang di kelas. Dulu kita sering ngedumel bareng di ruang guru soal anak-anak yang pasif itu. Teknik JEDA itu praktis sekali, patut saya tiru. Kadang kita lupa bernapas saking inginnya anak-anak cepat paham.

Hermanto • 31/10/2025 15:42

Aksi nyata ini sangat relevan dengan visi sekolah kita, seandainya semua guru menerapkan seperti yang pak Sigit tulis saya yakin demensi Loving and Being di SMP Negeri Gapura akan meningkat. Jika berkenan saya minta pak Sigit medesiminasikannya ke teman teman lewat kombel Kubela Spentura.

Kurniawan Wahyudi • 31/10/2025 15:04

Keren Pak Sigit! Ide kesepakatan kelas dan diferensiasi produk itu pas banget. Siswa saya yang kinestetik juga begitu, Pak, tidak bisa diam. Kalau dipaksa duduk, ya mengobrol. Saya jadi terpikir, di PJOK juga harus ada diferensiasi produk, tidak hanya tes lari saja. Biar anak-anak merasa dihargai

Enny Lailatul Mahmudah • 31/10/2025 05:41

Sangat menginspirasi dan memberikan gambaran kepada kita sebagai seorang pendidik dalam upaya menciptakan lingkungan belajar yang nyaman untuk peserta didik dan peserta didik merasa dilihat dan dihargai keberadaannya di kelas